Rangkasbitung, 2 Nopember 2010
Salam Hangat,
Saat aku menulis surat ini, aku sedang gelap dilanda rasa ngantuk yang luar biasa. Di tengah perjalanan laju kereta api Rangkasbitung-Tanah Abang. Kedua mataku memberat, dan kepalaku nyaris membentur sudut jendela. Runyam sudah! Aku penat mendengar ocehan orang sebelah, belum lagi asap rokok murah yang dihisap seorang kakek setengah baya, menyembul luas tepat ke wajahku.menengok ke samping seorang ibu membuka bungkusan roti dari kemasan plasiknya "ingin rasanya ku sobek roti itu dan kusumpal bulat2 ke mulut yang tak pernah di sekolahkan" namun nampaknya nilai sepotong roti lebih mahal dari sekedar menyumpal mulutnya yg lancang!
Untunglah saja saat itu ada satu keindahan sederhana yang muncul dari arah jam 10. "kamu indah... tak perduli orang bicara apa tentangmu.." ucapku sambil lalu. Tubuh itu berbalut busana rajut,bermotif rantai, warna abu-abu dipilihnya menemani pagi, dirinya masih terbius aroma 70an dengan celana berbahan bludru, dengan model setengah cutbray. pesonanya membius hiruk pikuk kereta saat itu. Dan tentu saja ia begitu sopan, lemah lembut dan elegan. Dari senyumannya, terkembang satu makna.. bahwa aku ingin hidup 1000 tahun lagi layaknya gelora chairil anwar saat mencipta bait puisi. hehe. (aku sebut ini ungkapan bodoh untuk orang semenawan beliau).
Bertanding dengan asa.. aku menangkap sinyal bahwa ia 'ingin di goda' lalu? apa salahnya?? apa salahnya bila aku mengagumi nenek berusia sekitar 60 tahun yang mengenakan pakaian rajut dengan style tahun 70'an, dengan rambut model bop yang ternyata hanya HOAX alias palsu. lihat senyum itu... aku pun tak punya senyuman serenyah itu.. lihat bahu itu... bahuku bahkan tak cukup kuat menyandang berat beban dari isi tas yang terlihat penuh, yang kemudian ia sandang seolah ringan. langkahnya keluar kereta tetap menganggap bebannya adalah suka cita.
Dan bahkan menopause pun tak mampu merenggut hijaunya. Kala itu ia sempat menyapaku saat tak sengaja berpapasan menuju pintu keluar. "mbak kerja?" dengan kerutan yang terlihat nyata,senyumnya terkembang menghapus sepersekian detik masa tua dari wajahnya. "oh..ya.." jawabku..
Begitulah sepenggal cerita tentang perjalananku pagi ini.....
tentu saja, sang nenek tak pernah tahu bila aku mengidolakannya.....
^u^
kutulis untukmu nek...
